0


Ketika sedang duduk santai dan menonton film seperti biasa, seorang suami bertanya pada istrinya,”Istriku, bagaimana perasaanmu kini ketika mendapatiku tidak mempunyai pekerjaan tetap dan gaji yang rutin setiap bulan untuk menafkahimu? Adakah engkau pernah kecewa dan merasa tertipu telah menikah denganku…? Ataukah engkau akan menjauhiku atau bahkan berniat berpisah dariku…?”

Istrinya tersenyum dan berkata,”Ada apa suamiku? Kenapa bertanya seperti itu?” Suaminya menjawab,”Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu saja, bagaimana pendapat dan sikapmu jika hal itu terjadi.”

Istrinya diam sejenak, kemudian tersenyum dan menjawab pertanyaan suaminya,”Dengarkanlah suamiku. Dulu ketika aku memutuskan untuk menikah denganmu, aku juga telah banyak berpikir tentang masa depan ku, masa depan rumah tangga ku, dan anak-anakku. Aku menyadari setiap keputusan besar memiliki resiko dan rintangannya sendiri. Begitu juga dalam pernikahan. Dan dalam hatiku, bagaimana pun resikonya, aku telah membuat keputusan ini, maka aku akan menjalaninya.”

“Hal paling penting yang harus engkau tahu tentangku, suamiku, bahwa apa pun atau siapa pun yang Allah Azza Wa jalla berikan padaku, aku amat percaya dan meyakini semua itu adalah yang terbaik untukku. Begitu juga denganmu, suamiku. Allah SWT memiliki penilaian-Nya sendiri, dan tidak ada penilaian sebaik-baik penilaian-Nya. “

“Kau adalah suami yang Allah pilihkan dan Allah jodohkan untukku, tentu kau adalah yang terbaik bagiku. Pemilik alam semesta dan Maha Kuasa-lah yang telah memilihkanmu untukku. Maka sebaik-baiknya engkau, atau seburuk-buruknya engkau, engkau tetap suamiku, belahan jiwaku, dan aku tulang rusukmu. Jika aku membencimu, itu sama halnya aku membenci diriku sendiri.”

“Maka tiap kebahagiaan, kesulitan, kelemahan atau apapun yang ada padamu dan yang engkau alami, itu pun adalah milikku, dan sepatutnya aku turut menanggungnya bersama-sama denganmu. Begitu juga seharusnya engkau terhadapku.”

“Jadi, ketika hal yang engkau tanyakan itu terjadi, maka jawabanku adalah ‘Tidak’. Aku tidak akan merasa tertipu atau bahkan memutuskan untuk berpisah darimu. Sebab saat itulah rumah tangga kita di uji, apakah kita akan tetap saling menguatkan sekalipun dalam kondisi sempit dan kekurangan. Saat itulah ladang pahala bagiku dan juga untukmu, untuk bersabar dan bangkit bersama-sama. Bukan malah membencimu dan meminta untuk berpisah.”

Sang suami tersenyum sambil matanya berkaca-kaca. Mungkin ia terharu mendengar jawaban istrinya…

Kemudian ia bertanya lagi,”Bagaimana jika aku melakukan kesalahan-kesalahan lain terkait ini, semisal berbohong?”

Sang istri menjawab,”Kesalahan pasangan kita, belum tentu 100% kesalahannya. Bisa jadi kesalahanmu itu terjadi disebabkan karena aku, suamiku. Sebagai contoh, ketika aku menjadi seorang istri yang amat konsumtif, dan banyak hal yang ku tuntut darimu, maka bisa jadi engkau akan melakukan pembohongan untuk mendapatkan uang, atau bahkan korupsi. Itu karena aku menekanmu, dan engkau takut akan hal-hal tertentu. Misalkan, engkau takut jika tidak bisa memenuhi keinginanku, aku akan marah dan hal-hal buruk lainnya akan terjadi.
Maka alangkah baiknya kesalahan-kesalahan yang aku atau engkau buat, kita koreksi bersama-sama. Jika perlu kita perbaiki bersama-sama.

Atau, saat seorang istri mendapati suaminya seorang yang banyak uang, namun pada kenyataannya sang suami tidak demikian. Lalu sang suami berusaha untuk tetap pada kondisi di mana sang istri berprasangka terhadapnya. Maka ia akan berusaha untuk tetap seolah-olah ia memiliki uang yang banyak, untuk mempertahankan gengsinya, atau gengsi keluarga besarnya.

Dan jalan terbaik untuk semua ini adalah kejujuran hati untuk berterus terang di antara kita. Dan juga komunikasi, di mana hal yang baik atau pun yang buruk, haruslah disampaikan, dengan cara yang baik, demi kelangsungan hidup rumah tangga yang kelak pula akan mempersatukan kita di jannah-Nya…



From Kaskus, By Nazumi

Dikirim pada 04 Maret 2011 di Artikel

Pas buka-buka fb, ada teman yg tag artikel ini. Cerita yang bagus, banyak hikmah di dalamnya. Akhirnya izin buat share. Pesannya bacalah dengan hati....

Mengharu biru; kekuatan kata istri shalehah dalam kisah ini begitu mengena. Catatan yang diambil dari page di atas sajadah cinta ini sengaja kami kirimkan melalui catatan inii semata-mata ingin menyebarkan manfaat yang terkandung dalam kisah ini. Semoga bermanfaat_

Sore itu, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar.. seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu. “anty sudah menikah?”. “Belum mbak”, jawabku. Kemudian akhwat itu .bertanya lagi “kenapa?” hanya bisa ku jawab dengan senyuman.. ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.
“mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya. “nunggu suami” jawabnya. Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya- tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya “mbak kerja dimana?”, ntahlah keyakinan apa yg meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahuku, akhwat2 seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.

“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” , jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati. “kenapa?” tanyaku lagi. Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah cara satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami” jawabnya tegas. Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.
Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat.
“saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. Dan parahnya saya juga lagi pusing. Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata, “abi, umi pusing nih, ambil sendirilah”.

Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi deman, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk diluar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.”
Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yg di usapnya.
“anty tau berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700rb/bulan. 10x lipat dari gaji saya. Dan malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya, dan setiap kali memberikan hasil jualannya , ia selalu berkata “umi,,ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah2an umi ridho”, begitu katanya.
Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya”, lanjutnya
“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami.” Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.
“beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua dan saudara-saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.”
Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.
“kak, kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini besar. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah. Salah kakak juga sih, kalo ma jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.
“anty tau, saya hanya bisa nangis saat itu. Saya menangis bukan Karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya. Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan. Baigaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah dihadapannya hanya karena sebuah pekerjaan.

Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi lihatlah suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya.

Semoga jika anty mendapatkan suami seperti saya, anty tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anty pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku.

Dia mengambil tas laptopnya,, bergegas ingin meninggalkannku. Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, meninggalkannku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.

Ya Allah….
Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling baik dalam hidupku.

Pelajaran yang membuatu menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..
Subhanallah..

Dikirim pada 28 Februari 2011 di Artikel


Ada empat pintu kekufuran.

Pertama, takabur, yang menghalangimu tunduk dan patuh. Kedua, dengki, yang menghalangimu untuk menerima nasehat. Ketiga, amarah, yang mencegahmu untuk berbuat adil. Dan keempat, syahwat yang menghalangimu untuk melakukan ibadah.

Sumber dari keempat rukun itu adalah kebodohan kita terhadap Alloh dan jiwa kita. Cara melepaskannya adalah : Pertama, ketahuilah sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan Alloh serta sadarilah atas kekurangan dan kelemahan jiwa kita, niscaya kita tidak akan sombong dan dengki. Kedua, ketahuilah bahwa menuruti nafsu syahwat merupakan penghalang terbesar menuju ilmu dan pengetahuan, maka tutuplah pintu syahwat agar kebenaran terbuka bagi kita. Dan ketiga, ketahuilah bahwa kemarahan itu seperti binatang buas. Maka kalahkanlah ia, niscaya setan tidak akan menguasai kita.

Dikirim pada 26 Februari 2011 di Artikel


Hari pernikahanku. Hari yang paling bersejarah dalam hidup.
Seharusnya saat itu aku menjadi makhluk yang paling berbahagia. Tapi yang aku rasakan justru rasa haru biru.

Betapa tidak. Di hari bersejarah ini tak ada satupun sanak saudara yang menemaniku ke tempat mempelai wanita.

Apalagi ibu.
Beliau yang paling keras menentang perkawinanku. Masih kuingat betul perkataan ibu tempo hari, "Jadi juga kau nikah

sama �buntelan karung hitam� itu ....?!?"
Duh......, hatiku sempat kebat-kebit mendengar ucapan itu. Masa calon istriku disebut �buntelan karung hitam�.
"Kamu sudah kena pelet barangkali Yanto. Masa suka sih sama gadis hitam, gendut dengan wajah yang sama sekali

tak menarik dan cacat kakinya. Lebih tua beberapa tahun lagi dibanding kamu !!" sambung ibu lagi.
"Cukup Bu! Cukup! Tak usah ibu menghina sekasar itu. Dia kan ciptaan Allah. Bagaimana jika pencipta-Nya marah

sama ibu...?" Kali ini aku terpaksa menimpali ucapan ibu dengan sedikit emosi. Rupanya ibu amat tersinggung
mendengar ucapanku.
"Oh.... rupanya kau lebih memillih perempuan itu ketimbang keluargamu. baiklah Yanto. Silahkan kau menikah tapi

jangan harap kau akan dapatkan seorang dari kami ada di tempatmu saat itu. Dan jangan kau bawa perempuan
itu ke rumah ini !!"
DEGG !!!!
"Yanto.... jangan bengong terus. Sebentar lagi penghulu tiba," teguran Ismail membuyarkan lamunanku.
Segera kuucapkan istighfar dalam hati.
"Alhamdulillah penghulu sudah tiba. Bersiaplah ...akhi," sekali lagi
Ismail memberi semangat padaku.
"Aku terima nikahnya, kawinnya Shalihah binti Mahmud almarhum dengan mas kawin seperangkat alat sholat tunai !"

Alhamdulillah lancar juga aku mengucapkan aqad nikah.
"Ya Allah hari ini telah Engkau izinkan aku untuk meraih setengah dien.
Mudahkanlah aku untuk meraih sebagian yang lain."
Dikamar yang amat sederhana. Di atas dipan kayu ini aku tertegun lama. Memandangi istriku yang tengah tertunduk

larut dalam dan diam. Setelah sekian lama kami saling diam, akhirnya dengan membaca basmalah dalam hati
kuberanikan diri untuk menyapanya.
"Assalamu�alaikum .... permintaan hafalan Qur�annya mau di cek kapan De�...?" tanyaku sambil memandangi
wajahnya

yang sejak tadi disembunyikan dalam tunduknya. Sebelum menikah, istriku memang pernah meminta malam
pertama hingga ke sepuluh agar aku membacakan hafalan Qur�an tiap malam satu juz. Dan permintaan itu telah aku

setujui. "Nanti saja dalam qiyamullail," jawab istriku, masih dalam tunduknya. Wajahnya yang berbalut kerudung putih,

ia sembunyikan dalam-dalam. Saat kuangkat dagunya, ia seperti ingin menolak. Namun ketika aku beri isyarat bahwa

aku suaminya dan berhak untuk melakukan itu , ia menyerah.
Kini aku tertegun lama. Benar kata ibu ..bahwa wajah istriku �tidak menarik�. Sekelebat pikiran itu muncul ....dan
segera aku mengusirnya.
Matanya berkaca-kaca menatap lekat pada bola mataku.
"Bang, sudah saya katakan sejak awal ta�aruf, bahwa fisik saya seperti ini. Kalau Abang kecewa, saya siap dan ikhlas.

Namun bila Abang tidak menyesal beristrikan saya, mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan yang banyak
untuk Abang. Seperti keberkahan yang Allah limpahkan kepada Ayahnya Imam malik yang ikhlas menerima sesuatu

yang tidak ia sukai pada istrinya.
Saya ingin mengingatkan Abang akan firman Allah yang dibacakan ibunya Imam Malik pada suaminya pada malam

pertama pernikahan mereka," ...
Dan bergaullah dengan mereka (istrimu) dengat patut (ahsan). Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka

bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjanjikan padanya kebaikan yang
banyak." (QS An-Nisa:19)
Mendengar tutur istriku, kupandangi wajahnya yang penuh dengan air mata itu lekat-lekat. Aku teringat kisah suami

yang rela menikahi seorang wanita yang memiliki cacat itu. Dari rahim wanita itulah lahir Imam Malik, ulama
besar ummat Islam yang namanya abadi dalam sejarah.
"Ya Rabbi aku menikahinya karena Mu. Maka turunkanlah rasa cinta dan kasih sayang milikMu pada hatiku untuknya.

Agar aku dapat mencintai dan menyayanginya dengan segenap hati yang ikhlas."
Pelan kudekati istriku. Lalu dengan bergetar, kurengkuh tubuhya dalam dekapku. Sementara, istriku menangis tergugu

dalam wajah yang masih menyisakan segumpal ragu.
"Jangan memaksakan diri untuk ikhlas menerima saya, Bang. Sungguh... saya siap menerima keputusan apapun

yang terburuk," ucapnya lagi.
"Tidak...De�.
Sungguh sejak awal niat Abang menikahimu karena Allah.
Sudah teramat bulat niat itu. Hingga Abang tidak menghiraukan ketika seluruh keluarga memboikot untuk tak datang

tadi pagi," paparku sambil menggenggam erat tangannya.
Malam telah naik ke puncaknya pelan-pelan. Dalam lengangnya bait-bait do�a kubentangkan pada Nya.
"Robbi, tak dapat kupungkiri bahwa kecantikan wanita dapat mendatangkan cinta buat laki-laki. Namun telah kutepis

memilih istri karena rupa yang cantik karena aku ingin mendapatkan cinta-Mu. Robbi saksikanlah malam ini
akan kubuktikan bahwa cinta sejatiku hanya akan kupasrahkan pada-Mu.
Karera itu, pertemukanlah aku dengan-Mu dalam Jannah-Mu !"
Aku beringsut menuju pembaringan yang amat sederhana itu. Lalu kutatap raut wajah istriku dengan segenap hati

yang ikhlas. Ah, .. sekarang aku benar-benar mencintainya. Kenapa tidak? Bukankah ia wanita sholihah
sejati. Ia senantiasa menegakkan malam-malamnya dengan munajat panjang pada-Nya.
Ia senantiasa menjaga hafalan KitabNya. Dan senantiasa melaksanakan shaum
sunnah Rasul Nya. "...dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah.

Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya
pada Allah ..." (QS. al-Baqarah:165)
********************
Ya Allah sesungguhnya aku ini lemah , maka kuatkanlah aku dan aku ini hina maka muliakanlah aku
dan aku fakir maka kayakanlah aku wahai Dzat yang maha Pengasih

Dikirim pada 05 Februari 2011 di Artikel


Senyum, membuat penerimanya lebih kaya, namun ajaibnya tidak akan memiskinkan pemberinya


Senyum, hanya terjadi dalam hitungan detik, namun akan selalu terkenang sepanjang masa


Senyum, Tidak akan ada orang didunia ini yang terlalu kaya sampai sampai dia tidak memerlukannya, dan tidak ada yang terlalu miskin sampai sampai dia tak dapat memberinya


Senyum adalah tempat peristirahatan bagi hati hati yang lelah mencari semangat diri, cahaya bagi kegelapan batin, kesukaan bagi yang bersedih, dan pencerah untuk mengatasi kesulitan


Senyum tulus tidak akan bisa dipinjam, dibeli, apalagi di curi. Karena ketulusan adalah datangnya dari kerelaan dari sebuah kebaikan hati


Senyum, sumber kebahagiaan dimanapun kita berada


Senyum, jembatan penyeberangan yang menghubungkan satu sisi dengan sisi lainnya dan pengikis semua perbedaan yang terkreasi oleh manusia.


Senyum, sesuatu yang terindah bagi siapa saja yang mendapatkannya


Senyum, ekspresi dari hati atas kesenangan atau kegembiraan yang dirasakan pemiliknya, dan yang akan menghangatkan kehidupan sekitarnya.


Senyum, adalah seni dari sebuah kedamaian jiwa manusia


Terkadang orang disekitar kita sudah lelah dengan segala kepenatan mereka dan berat untuk memberikan senyuman. maka tidak ada salahnya kalau kita yang tersenyum kepada mereka


Senyum, Sangat dibutuhkan oleh orang yang tiada lagi mampu memberi.



***voa-islam.com***



Dikirim pada 28 Januari 2011 di Artikel


Eyang Gus, begitu kami memanggilnya. Laki-laki tua yang konon juga masih terhitung kakekku. Ia begitu ramah pada setiap orang. Eyang Gus selalu mempersilahkan siapa saja untuk bertandang dan bermain di rumahnya, termasuk anak-anak kecil seperti aku waktu itu. Dia selalu menyediakan makanan dan minuman bagi kami.

Ada yang terasa aneh dengan Eyang dan rumahnya. Rumah itu terlalu sepi. Hanya Eyang saja yang tinggal di rumah itu. Aku tak tahu ada apa dengan hal itu. Walau hati bertanya, aku tetap menikmati keadaan rumahnya yang kuno, berhawa dingin, penuh furniture kuno, dan buku-buku berbahasa belanda.

Akhirnya rasa penasaran itu terjawab setelah kakak memberikan penjelasan tentang kehidupan Eyang yang sepi di rumah yang dingin itu. Konon, dimasa mudanya Eyang pernah jatuh cinta kepada seorang gadis dan menjalin hubungan cinta dengan gadis tersebut. Begitu cintanya Eyang kepada gadis itu hingga dia memutuskan untuk menikahinya. Sayang, niat itu tak kesampaian. Cintanya tak berakhir di pelaminan. Saking cintanya terhadap gadis itu, Eyang tak menjalin hubungan cinta dengan gadis lain lagi. Eyang tak pernah menikah seumur hidupnya.

Aku tak tahu bagaimana hati Eyang Gus menjalani hidupnya. Apakah kegelisahan cinta itu masih ada dalam hatinya, dalam hari-hari kehidupannya. Apakah ada kehancuran yang disembunyikan dibalik dinding-dinding rumah yang dingin itu. Aku tak tahu.

Eyang Gus telah meninggal. Tak meninggalkan istri apalagi keturunan. Sudah sekitar dua puluh tahun aku tak bertandang ke rumah itu. Rumah dingin itu menjadi saksi kehidupan seorang lelaki dengan kesetiaan mencintai. Rumah itu seakan bercerita, “Aku adalah saksi, bahwa orang yang jatuh cinta tak bisa memilih untuk tidak jatuh cinta.”

*******

Ada ungkapan menarik tentang cinta, “jika orang yang jatuh cinta bisa memilih, maka ia akan memilih untuk tidak jatuh cinta.”
Cinta adalah atribut kehidupan manusia, pun cinta kepada lawan jenis. Ia adalah fitrah hiasan manusia. Seorang yang bernama manusia akan dan pernah jatuh cinta kepada manusia lain. Cinta datang begitu tiba-tiba. Kedatangannya membuang kesadaran jauh ke belakang. Ketika kesadaran itu kembali mendatangi, sadarlah dirinya sudah terjerat cinta. Benar sebuah uangkapan, cinta itu bertindak dulu baru berpikir.

Cinta memang tidak bisa ditolak. Datangnya pun bukan sebuah dosa. Abu Muhammad bin Hazm berkata, ada seorang laki-laki berkata kepada Amirul Mukminin, Umar bin Al-Khaththab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya saya melihat seorang wanita lalu saya sangat cinta kepadanya.” Umar berkata, “Itu adalah sesuatu yang tak mungkin dibendung.”

Jadi, sebenarnya kedatangn cinta itu hanya perlu disikapi dengan bijak, perlu diatur, dimanajemen. Manajemen cinta kepada lawan jenis yang terbaik adalah menikahi orang yang dicintai. Jika belum mampu, puasa, menahan diri dalam bergaul dengan lawan jenis adalah solusinya. Jika merajut cinta berumah tangga disikapi sebagai ibadah, tentu kesetiaan cinta tak menghancurkan jiwa.







Dikirim pada 19 Januari 2011 di Artikel

Tuhan, ku mengadu padaMu

Aku memang makhluk lemah

Kadang aku jahil, kadang aku sombong

Begitu banyak dosa diriku

Amalku Sedikit



Saat ada orang yang membentangkan secuil hidupku

Aku sombong Tuhan

Aku menilai diriku jauh lebih tinggi

dari sebenarnya



Maafkan aku Tuhan

Tapi, meski aku tak seshalih saudara-saudaraku

Di lubuk hatiku ini aku mencintaiMu dengan sangat dalam

Dengarkan Tuhan, aku mencintaiMu

Sangat mencintaiMu



Tuhan, aku hanya seorang hamba

Aku ingin selalu dekat denganMu

Selalu ingat denganMu dalam setiap nafasku



Tuhan Curahkan Cintamu

Agar aku dapat memperbaiki dzikirku

Memperbanyak syukurku

Dan memperindah ibadahku

PadaMu



Tuhan......bantulah aku untuk menjadi bidadariMu

Di syurgaMu yang tinggi

Demikian pula untuk saudara-saudaraku yang lain

Bimbinglah mereka agar sampai ke syurgaMu yang mulia

Karena aku tak ingin sendiri saja sebagai bidadari syurgamu



Ruang biru, januari 2011






Dikirim pada 07 Januari 2011 di coretan


Ikhlas, satu kata yang mudah sekali diucapkan tapi sulit sekali dilakukan. Apalagi dalam kehidupan sehari-hari, sering kita berkata “ya, saya ikhlas kok dengan keadaan seperti ini.” Atau “ya, saya ikhlas kok ngasih benda itu ke dia.” Tapi nggak tahu kan apa yang ada di dalam hati kita, apa kita bisa benar-benar ikhlas atau tidak.

Apalagi dalam hal ibadah, kayaknya sulit banget ya buat ikhlas. Jadi ingat pas dengerin ceramah di salah satu stasiun televisi. Sang ustad bercerita ada pengantin baru, sang menantu adalah laki-laki, waktu itu ingin melakukan shalat dhuha di masjid terdekat. Dia melakukan sholat dua rakaat, pas selesai salam nengok ke belakang eh ternyata ada mertuanya. Niatnya hanya ingin dua rakaat, tapi berhubung ada mertua sang menantu berdiri lagi sholat dua rakaat, pas salam ternyata masih ada mertuanya, jadi dia sholat lagi. Dia terus melakukan sholat sampai dapet 8 rokaat.
Bisa dibayangin tuh, kalau sang menantu nanyain pahala sholat dhuhanya sama Alloh, Alloh pasti cuma ngasih pahala yang dua rakaat, yang enam rakaat lagi silahkan minta sama mertuanya. ^___^. Kalau difikir-fikir lucu juga., kok bisa semangat banget ya ibadahnya kalau dilihat orang??

Salah satu nikmat terbesar dalam hidup ini adalah ketika kita bisa mengenal Alloh. Karena puncak akhlak dan kebahagiannya hanya akan diperoleh oleh orang-orang yang senantiasa berusaha mengenal Alloh. Orang-orang inilah yang selalu yakin terhadap kebesaranNya, keagungan, serta kekuasanNya. Dia senantiasa ikhlas dalam beribadah kepadaNya.

Lalu bagaimana perbedaan antara amal ibadah yang dilakukan dengan orang yang ikhlas dan sebaliknya? Secara sederhana, ciri pembeda yang paling khas antara orang yang amalnya ikhlas dengan yang tidak adalah dalam kesinambungan amal.

Orang yang ikhlas senantiasa menjaga agar amal-amalnya berkesinambungan; terus-menerus. Baginya manakala kesusahan datang menimpa, ia akan bersimpuh merindukan pertolongan Alloh Azza wa Jalla. Demikian pula manakala diberi kelapangan dan kesenangan, ia justru semakin bersujud penuh jerit rasa syukur atas segala nikmat dariNya. Amal ibadahnya senantiasa tiada terputus, sama sekali tidak berbeda tatkala mendapat nikmat suka maupun duka.

Namun tidak demikian dengan orang yang tidak atau kurang ikhlas. Amal mereka yang tiada ikhlas biasanya temporal. Kalau sedang dilanda suatu musibah, seperti ditimpa ujian penyakit, kesempitan rezeki, dililit hutang, dan sebagainya, serta-merta ia meningkatlah amal ibadahnya. Sebaliknya manakala pertolongan Alloh yang dirindukannya itu datang, serta-merta pula dia lupa untuk bersyukur kepadaNya.

Walaupun sulit untuk melakukan perbuatan dari satu kata yang bernama “ikhlas”, tapi kita harus tetap berusaha agar kita bisa ikhlas, dan akhirnya semoga kita
bisa……..ikhlas. Insya Alloh ^____^

Dikirim pada 03 Januari 2011 di Artikel


Saat itu musim semi, Ibnu Ja’dan pergi keluar rumah untuk melihat unta-unta peliharaannya. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada unta betina miliknya yang bertubuh gemuk dan siap diperah susunya. Ketika ia mendekat, tampaklah olehnya anak unta tengah menikmati susu deras yang keluar dari kantong susu induknya.

Di tempat bernbeda, ia melihat unta betina lain sedang dibuntuti oleh anaknya. Seketika terbayang di pelupuk matanya keadaan tetangga di sebelah rumahnya yang memiliki 7 orang anak, tapi kondisi ekonominya sangat memprihatinkan. Ibnu Ja’dan berkata pada dirinya sendiri, “Demi Allah, saya akan menyedekahkan unta ini bersama anaknya, kepada tetanggaku”.


Maka dibawalah unta tersebut berikut anaknya kepada tetangga. Dia mengetuk pintu sambil berucap salam. Begitu pintu terbuka dan tuan rumah melongokkan kepalanya, Ibnu Ja’dan berkata, “Ambillah unta betina ini, sebagai hadiah dariku untukmu”. Tiada sepatah katapun keluar dari bibir lelaki itu karena saking senangnya. Hanya dari wajahnya terpancar rasa syukur dan kegembiraan luar biasa. Di hari-hari berikutnya ia dan ketujuh anaknya tidak pernah lagi kelaparan, karena unta betina itu menghasilkan susu yang teramat berlimpah dan sepertinya tidak pernah habis meski diperah setiap hari. Lelaki itu juga memelihara anak unta itu dengan baik dan menunggu hingga besar untuk dijual. Dan dengan unta itu Allah memberikan kesejahteraan kepada keluarga itu.


Musim semi pun berakhir, berganti dengan musim panas. Dimana-mana terjadi tanah retak dan terbelah. Orang-orang pedalaman sibuk mencari air minum di sumur.
Suatu hari Ibnu Ja’dan mencari air ke sumur bersama anak-anaknya. Karena kemarau, dan air hampir kering, Ibnu Ja’dan terpaksa masuk ke dalam sumur yang sempit dan gelap, sementara anak-anaknya menunggu di atas. Entah mengapa, Ibnu Ja’dan tidak lagi naik ke atas. Satu dua hari berlalu,anak-anaknya tetap menunggunya. Tapi pada hari ketiga, mereka mulai putus asa dan memutuskan untuk pulang.


Mereka semua memang mengharap ayah mereka meninggal karena mereka ingin segera membagi harta peninggalannya. Setiba di rumah mereka langsung membagi harta warisan. Tiba-tiba mereka ingat kepada unta betina yang diberikan oleh ayahnya kepada tetangga sebelah. Mereka bergegas mendatanginya dan berkata, “jika kamu ingin selamat, kembalikan unta betina yang diberikan ayah kepadamu dan terimalah unta jantan ini. Jika kamu tidak mau akan kami ambil semuanya hingga kamu tidak mendapatkan apa-apa lagi.”
“Apakah kamu tidak takut jika hal ini kuadukan kepada ayahmu? Ancam si tetangga miskin itu. “Silahkan saja kamu adukan, ayah sekarang sudah mati, jawab anak tanpa perasaan”. “Meninggal? Mengapa saya tidak tahu dan bagaimana dia bisa meninggal?”. “Dia masuk ke dalam sumur di padang pasir dan tidak keluar lagi”. “Kalau begitu tolong tunjukkan lokasinya dan ambillah unta betina ini. Saya juga tidak menginginkan unta jantan yang kamu bawa.”


Setelah anak durhaka itu menunjukkan lokasi sumur tersebut, tetangga miskin itu bergegas menuju ke sana. Dia segera mengikatkan tali ketubuhnya dan tali yang lain diikatkan pada sesuatu di luar sumur. Dengan hati-hati ia memasuki sumur itu. Secara samar ia mendengar rintihan. Saat sampai dipermukaan tanah, tangannya bersentuhan dengan seseorang dan ternyata masih bernafas. Lelaki itu adalah Ibnu Ja’dan.


Beberapa hari kondisi Ibnu Ja’dan mulai membaik dan anak-anaknya belum mengetahui hal itu. Karena penasaran, sang tetangga menanyakan keajaiban apa yang terjadi hingga beliau bisa bertahan hidup selama sepekan di dalam sumur.


Ibnu Ja’dan menceritakan kisahnya dengan takjub. “Saat saya turun ke dalam sumur, saya terjatuh, tiba-tiba jalan yang harus saya lalui terbelah. Kemudian saya berujar pada diri sendiri, “Saya akan tetap tinggal di air tempat saya mengambil minum.” Dan selama di dalam, saya hanya minum air yang ada di situ tanpa makanan sedikitpun. Berhari-hari saya di situ hingga airnya kering. Namun rasa lapar begitu mendera, hingga saya tidak kuat lagi dan hanya pasrah. Tiba-tiba saya merasakan ada tetesan susu mengalir di mulutku.


Saya sudah mulai bisa duduk. Dan tiba-tiba lagi dalam kegelapan ada wadah mendekat di mulutku. Saya meminum susu dari wadah sampai puas. Begitulah, wadah itu datang tiga kali dalam sehari. Tapi, dalam dua hari lalu wadah itu tidak muncul-muncul lagi dan saya tidak tahu sebabnya.”


Tetangga itu mengatakan, “anak-anakmu mengira kamu telah meninggal dan mereka mengambil unta betina yang dulu engkau berikan kepadaku, padahal demi Allah, engkau boleh mempercayainya atau tidak dari unta itulah Allah memberimu minum susu selama di dalam sumur. Sesungguhnya seorang muslim berada dalam naungan sedekahnya.”


Subhanallah, sesungguhnya wadah berisi susu itu terhenti bertepatan dengan diambilnya unta betina itu dari tangan si miskin.

Dikirim pada 31 Desember 2010 di Artikel

Teruntuk Suamiku Tercinta,

Maafkan aku, jika lisanku sering menambah beban dan cobaan dalam hidupmu. Sama sekali tak ada niatan dalam hatiku untuk memboroskan kata yang sia-sia, ataupun memberi celah untuk banyak bicara yang tiada berguna.
Mungkin sempat terbersit di batinmu, ”Kalau ada kontes cerewet, pasti istriku akan jadi juaranya”, dan atau karena talenta alamiku itu membuatmu terganggu.

Tapi yakinlah suamiku, menjadi cerewet bukan berarti aku adalah seorang ibu yang tidak baik, tidak pula berarti menjadi ibu yang gagal. Aku hanya bermaksud melakukan sedikit “perubahan” untuk kebaikan keluarga kita. Aku cerewet karena keadaan yang ”memaksaku” menjadi cerewet.

Aku terkadang harus ”senam mulut” karena kebandelan anak-anak atau karena niat seriusku untuk memberikan batasan demi kebaikan mereka dan engkau. Kadang aku tidak tertarik pada bahasa yang ilmiah dan logis yang biasa kau sampaikan secara detail ketika memecahkan suatu masalah. Tapi yang aku tahu hanyalah memberikan perhatian dengan bahasa apa adanya yang aku mengerti lewat perasaanku.

Aku menyadari tentang pranata jiwa yang ada dalam pola pikirmu, yang biasa mengungkapkan masalah dengan teliti dan masuk akal, sehingga kau jarang sekali menyoal masalah yang dianggap kecil dan kurang perlu. Namun suamiku, tolong pahamilah bahwa bagi kebanyakan kami para wanita, masalah kecil ataupun besar tidaklah penting, namun mengungkap masalah yang dianggap masalah itu adalah poin pentingnya. Aku ada untuk melengkapi yang tak ada dalam dirimu: perasaan, emosi, kelemahlembutan, keluwesan, keindahan, kecantikan, rahim untuk melahirkan, dan mengurusi hal-hal sepele. Hingga ketika kau tidak mengerti hal-hal itu, akulah yang akan menyelesaikan bagiannya.

Suamiku sayang,

Dengan kecerewetanku, aku tak bermaksud suka mencari kesalahan-kesalahan terhadap segala sesuatu dan tak mau mengerti tentang banyak hal. Ini semua karena sistem jiwaku sebagai seorang wanita yang sangat peka dengan banyak hal. Kepekaan hati tentang kepentingan keluarga kita. Sebuah kepekaan hati yang memang telah dan sedang terbangun dalam jiwaku sebagai wanita.

….Cerewet ini bukan berarti aku membencimu dan keluarga kita, namun sebaliknya terkadang itu menunjukkan perhatian dan kecintaanku yang lebih….
Cerewet ini bukan berarti aku membencimu dan keluarga kita, namun sebaliknya terkadang itu menunjukkan perhatian dan kecintaanku yang lebih. Karena itu, kumohon tetaplah menjadi suami yang bijaksana dan pendengar yang baik, karena sebenarnya inti dari semua itu adalah aku ingin dipahami sebagai wanita.
Jika engkau dituntut konsekuen dengan tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga, maka aku pun dituntut untuk konsekuen menjadi seorang istri yang baik dan bijaksana. Namun karena kekuranganku sebagai wanita, aku banyak mengungkapkan kata yang kurang menyenangkanmu.

Suamiku yang bijak,

Pernahkah kau mendengar “Jika lelaki berpikir tentang perasaan wanita, itu sepersekian dari hidupnya, tetapi jika perempuan berpikir tentang perasaan lelaki, itu akan menyita seluruh hidupnya.” Karena itu pula ku sampaikan permintaan maafku karena besarnya niatku untuk selalu membahagiakan anak anak dan terutama engkau, walaupun dengan hal yang mungkin kurang enak yang bernama kecerewetan. Semoga Allah memaafkan kesalahanku dan menjadikan pribadi yang lebih baik

Sumber : voa-islam.com


Dikirim pada 29 Desember 2010 di Artikel
Awal « 1 2 3 » Akhir


connect with ABATASA